“Guys, thanx ya udah maksimalkan segalanya untuk event ini… sore ini
fee dah bisa di check di rekening masing-masing ye,…!” teriakku sambil melabaikan tangan dan berlari kecil keluar bangunan mungil serupa ruko 4 lantai menjulang, menuju parkiran menyambangi VW beatle
vintage hijauku.
Astaghfirullah!!! Mas Putra? Aku tercengang membatin, melihat sosok pria yang kukenal dengan baik, berperawakan semampai agak buntal. Seorang pria yang telah mencuri hatiku dalam waktu singkat. Sosok ramah, berikut kaca mata yang membingkai wajahnya dan membuat image mapan tergambar dalam wajah yang sangat kurindukan itu. Sembari bersembunyi dibalik tembok gedung kantor
Event Organizer Azkizya, milik ayah yang telah berkembang pesat dan dalam kepemimpinanku. Kubenahi kacamata yang melorot, dan memicingkan mata untuk memperjelas pandanganku.
Subhanallah benar mas Putra, ada urusan apa dia di Jakarta? Berikut anak-anak HOLY GHOST Magic. OMG, mampus gw! Doi kesini!! Sekonyong-konyong aku salah tingkah, kubalikan tubuh cepat, pura-pura memainkan ponsel dan seolah sedang melakukan pembicaraan di telfon. Detik itu pula nafasku tercengal saat tubuhnya mensejajari punggungku, melangkah maju melaluiku tanpa prasangka apapun. Saat itupun aku tersadar akan sesuatu.
Untuk apa dia ke Azkizya?! Jangan-jangan mas Putra mau pakai jasa kami! OMG, Rani, Rani, Rani,...!! cepat kugapai keypad ponselku dan melakukan panggilan ke nomer ponsel Rani, creative director kami di Azkizya.
”Ran, halo! Ini gue Olivia, gue liat ada klien menuju kantor. Gue rasa dia temen lama gue, tapi gue pernah ada masalah sama dia. Ceritanya nanti, lo denger aja! Kalo dia tanya-tanya tentang profil perusahaan kita, lo kasih identitas bokap ye! Jangan bilang pimpinan sekarang adalah gue, pokoknya lo jangan sebut-sebut nama gue! Dan usahain lo yang handle dia, jangan sampe yang lain angkat bicara, ok!?” Segera pula kuputuskan pembicaraan kami.
Dengan langkah gontai, dan masih tak percaya aku dapat melihat wajah itu lagi tepat dihadapanku. Kuteruskan berjalan setapak demi setapak menuju area parkiran. Namun sesaat aku kaget dan sempat mnghentikan langkahku, saat sebuah suara yang sangat kukenal menyebut namaku,
”Oliv,..!? saya ke Jakarta untuk mengurus event Temu Kangen HOLY GHOST Magic, bukan untuk bertemu dengan dia. Lagipula saya memang tak memiliki pentunjuk sedikitpun tentang keberadaannya sekarang” lanjut suara lembut yang sangat kurindukan itu. Hingga suara itu berlalu, aku masih terpaku dimana kupijakkan langkah gontai ini di depan gedung Azkizya.
Dia masih berusaha menemukan keberadaanku? Tuhan, kuatkan batin ini... lama kisah kami berlalu, tak pula dapat kuharapkan ’cerita’ kami berlanjut. Hamba telah terlalu merindukan-Mu. Tak lama waktu kumiliki untuk membuat seorang Putra bahagia dengan fisik yang seperti ini. Tuhan, berikan kebahagiaan baginya, luruskan jalanya tuk raih apapun yang dia inginkan dalam hidup ini. Tuhan, cukup kucintai dia dalam hati. Terima kasih Tuhan, masih memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya walau ia tak menyadari keberadaanku.***
Olivia, kamu dimana? Janji saya untuk ke Jakarta sering saya coba tuk tepati. Namun saya tak pula menemukan keberadaanmu. Bila saja lebih cepat saya menemukan fakta, bahwa kamu melepaskan tunanganmu demi saya, mungkin kita dapat merajut cinta kasih dan bahagia hingga kini. Seharusnya saya tidak melepaskan kamu memikul beban itu sendiri terlalu lama. Mungkinkah sebenarnya kamu berada dekat dimana saya berpijak? Saya merasakan itu tadi, seolah saya mendengar suara lantangmu. Yang sungguh sangat saya rindukan.”Heh! Bengong aja bapak satu ini! Kamu teh ngapain bengong gitu? Mana susunan acaranya? Kamu kan yang pegang?” seru Zenco, sahabat yang turut merintis HOLY GOSH Magic bersamaku sedari NOL. Masih terlintas dalam memoriku wajah letihnya yang dipaksa untuk tersenyum karena harus berpisah dengan kami, khususnya Kasih saudari yang sangat disayanginya. Walau berat, tapi dia memang harus pulang ke Jakarta hari itu juga, walaupun dipaksakan berangkat pada malam hari.
”Kalau memang jodoh, pasti kalian dapat bertemu lagi, saya yakin itu!” bisik Zenco sembari menarik print out data susunan acara yang akan kami konsultasikan dari tanganku kepada pihak EO kecil, namun kompeten dibidangnya ini. Bukan hanya konsitensi hasil kerjanya saja yang membuat kami menggunakan jasa EO ini jauh-jauh ke Jakarta, tapi karena ada satu karya iklannya yang mengingatkan saya kepada Olivia. Ide cerita iklan tersebut seolah banyak mendominasi sudut pandang sosok seorang Olivia Mc Auliffe.
”Jadinya mau diadakan kapan mas?” tanya seseorang wanita muda berperawakan mungil, namun memiliki ketegasan suara seperti laki-laki, creative director Azkizya.
”17 Agustus, di Warung Pasta, Bandung” jawabku.
”Kenapa jauh-jauh pakai EO sampai ke Jakartra mas, kalau acaranya di Bandung? Setahu saya, banyak EO yang lebih kompeten dari kami yang tersebar di Bandung dan sekitarnya” tanya gadis itu, yang baru kutahu Rina namanya.
”Jadi mbak Rina tolak orderan kami nih?! Hehehe... bercanda, ya kami tahu saja kualitas kerja anda-anda dalam perusahaan ini. Dengan harga yang terjangkau, dapat kemasan event yang wow! dan sangat memuaskan. Malah teman saya bilang, terkadang hasilnya sungguh diluar target klien. Lagi pula tidak ada ruginya, perjalanan 3 jam Bandung-Jakarta kami tempuh untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dengan harga setaraf jasa EO lokal Bandung. Sekalian saya jalan-jalan gitu ke Jakarta,hehehe...” jelasku panjang lebar penuh canda.
Setelah urusan di Azkizya selesai, Zenco memacu
jazznya ke bilangan Jalan Suropati, menuju taman Menteng. Dimana Olivia sering cerita, tentang betapa tempat favoritenya itu menjadi tongkrongan para mahasiswa ataupun orang-orang yang senang akan Fotografi, bereksperimen dengan kamera mereka. Sepajang jalan tak henti dadaku berdebar,
Tuhan berikan aku kesempatan untuk sekali saja bertemu dengan Olivia. Kuhanya ingin meminta maaf atas kelalaianku meninggalkannya dalam masa sulitnya SENDIRI! Tuhan, Engkau tahu apa yang kurasa terhadapnya. Sekian lama aku mencari dirinya, hanya untuk mengucapkan maaf dan ingin mengungkapkan sesuatu yang kumiliki untuknya. Setelah memasuki area parkir Taman Menteng, seraya dengan langkah yang ringan namun melambat, semakin kencangnya debaran didada kuturuni bangunan parkiran itu. Lalu kuhampiri pedagang minuman, untuk membeli sebotol Pocari Sweet kesukaan Olivia yang akhirnya menjadi
favoriteku juga. Singkat mataku mengedarkan pandangan ke komplek Taman Menteng, menunggu keberuntungan mendapati sosok Olivia. Dengan mulut menganga menanti air memasuki kerongkongan, nafasku tersengal.
Subhanallah, Olivia! Benarkah itu Olivia!? Allahuakbar! Benar, itu Olivia! Tuhan, itu Olivia! ”Olivia!” spontan kupanggil dia dengan setengah berteriak. Namun terlambat, VW Beatle
vintage hijau itu telah beranjak keluar pintu parkiran.
Tuhan, itu Olivia...***
Mas Putra,... maaf bukan aku tak ingin menghampirimu. Sungguh kutunggu momment ini sepanjang sisa hidupku. Tapi cukup kesedihanmu kehilanganku sejak dini, aku tak ingin kau tangisi jasadku kelak.***
”Heh, ngapain lo di bagian Radiologi!? Alasan apalagi sekarang Olivia Mc Auliffe!? Enggak mungkin lo jenguk orang sakit di Radiologi! Apa sih yang lo sembunyiin!?” sergah Rina. Dengan terkejut aku terpaku dalam dekap tangan Rina yang mungil namun kekar, yang memojokkan aku ke tembok depan ruang Radiologi RS. Mitra Sehat. Dimana aku rutin
therapy dan memeriksakan perkembangan penyebaran sel kanker dalam tubuhku beberapa tahun belakangan ini.
“Benar kan kecurigaan gue selama ini!? Lo ke RS dengan intensitas yang terbilang sering dan rutin. Dan sejak gue pertama kali ketemu lo di depan ruang dokter alhi saraf RS ini, gue semakin penasaran dan baru kali ini gue ngebuntutin lo dan ketangkep basah! Gue marah sama lo, mentang-mentang itungannya gue karyawan lo, jadi enggak punya hak gitu tau masalah pribadi lo!? Trus, kemana solidaritas persahabat yang kita punya dari SMA dulu!?” cecar Rina, dengan jarak bicara yang sangat dekat dihadapan wajahkuku.
Dan aku hanya dapat diam seribu bahasa, menahan bulir yang hampir membanjiri kantung mataku. ”Bisa biarin gue tenang dulu?” bisikku parau. Dan Rina pun mundur dengan teratur, seraya menggenggam tanganku erat menuntunku ke bangku ruang tunggu. Rina Setyani, sahabatku sejak dibangku SMA yang turut membantuku merintis EO ayah yang dilimpahkan kepemimpinannya ke tanganku, sejak ayah pindah ke desa. Setelah kami saling menenangkan diri, aku mulai menata kata-kataku untuk menceritakan tentang kondisiku sekarang.
”Gue di vonis menderita kanker otak, 2 tahun lalu. Dan gue enggak mau ada yang tau, jadi sebelum lo ngomong macem-macem lagi, gue minta dengan sangat jangan sampe ada yang tahu lagi, selain lo! Kalo enggak gue pecat lo, bukan cuma di kantor tapi juga sebagai sahabat gue! Deal!?” jelasku tegas, sambil mengulurkan tangan kanan, sebagai tanda persetujuan.
”KUNYUK!!! Enggak perlu ada perjanjian gitu, gue akan jaga rahasia lo ini samapi mati. Maaf kalo gue belum bisa jadi sahabat yang baik, sehingga lo merasa harus memikul semua ini sendiri, bahkan menyembunyikan ini dari gue! Gue sayang sama lo Olivia Mc Auliffe!! Kenapa harus gini sih nasib sahabat gue ini!! Trus lo beneran enggak mau kasih tau Big Boss & Nyonya Boss gitu? Gue tau lo terlalu sayang sama mereka, tapi mereka punya hak untuk tau apa yang terjadi sama lo. Sehingga kalo terjadi sesuatu yang buruk sama lo, mereka pun enggak akan menyalahkan diri mereka sendiri!” repet Rani, sambil mendekapku sangat erat dan bicara setengah teriak terisak ditelingaku.
”CUMI! Lo enggak perlu teriak ditelingga gue gini juga kali! Emang ya dasar Rani tengil! Jorok ah, umbel lo nempel dibaju gue nih!” balasku penuh canda sembari perlahan melepaskan dekapan rani menjauh dari tubuhku.
“Urusan ayah dan bunda, itu udah gue atur. Lo enggak usah khawatir, semua udah gue atur, sampe ke prosesi pemakaman gue nanti kalo terjadi hal yang paling buruk. Termasuk warisan buat lo, hehehehehehe…” sambungku nyeleneh. Dan Rani pun tak lagi dapat berucap, hanya tersenyum kecut dengan masih berurai air mata dan kembali memelukku.
Setelah adegan mengharu-biru itu, kami beranjak mengendarai
boil masing-masing ke arah Taman Impian Jaya Ancol. Rani pun sempat berucap,
“Dasar tante girang, ga sadar umur!” pada saat kami hendak berpisah di parkiran menghampiri
boil masing-masing. Dan tak lama dari itu kamipun telah sampai di depan pintu masuk Dunia Fantasi.
“Lo kan yang bayarin gue!? Lo juga gitu yang sakit jiwa, ngajakin gue ketempat beginian!” cecar Rani, yang memang benci tempat keramaian. Dan aku hanya dapat tersenyum geli, melihat sahabatku itu menahan emosi karena tak dapat menolak permintaan orang sekarat sepeti aku. Sungguh lucu, terharu juga merasa kelu karena kehendak takdir dalam hidupku terukir singkat seperti ini. Dan disinilah kami, sepasang sahabat yang sedang berusaha mengukir senyum dalam kelunya suratan takdir yang dalam waktu dekat akan memisahkan kami. Akupun, lagi. Dapat tertawa lepas menikmati separuh hari itu bersama Rani, walau bukan dengan seseorang yang dulu pernah membuatku merasakan bahagia seperti sore ini.
***
“Assalamualaikum,… ayah-bunda, nanda Olive pulang!!” salamku menggema di seantero bangunan istana mungil kami. Udara petang yang membelaiku seakan mendekap rindu akan kedatanganku didesa terpencil ini, menyegarkan raga yang letih karena menyetir sepanjang perjalanan Jakarta-Salatiga sedari mentari belum menyentuh tanah Jakarta, menjelang pagi. Aku putuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku dan memberi tahukan mereka tentang apa yang terjadi padaku selama ini, yang tak mereka ketahui. Setelah peristiwa terungkapnya penyakitku oleh Rina, aku memutuskan untuk bicara serius dengan ayah-bunda secepatnya, karena bila difikirkan lebih dalam. Harus aku lakukan secepatnya pengungkapan ini kepada orang tuaku, karena yang namanya kematian tidak dapat diterka kapan kedatangannya. Dan menurut dokter, hasil kemotherapy yang kujalani tidak lagi berefek terhadap pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuhku. Dengan itu, akupun semakin kecil memiliki peluang untuk sembuh dan bertahan lebih lama.
“Walaikumsalam,... nduk, apa kabar? Ayah...!!! Olivia kita pulang...! kamu pasti nyetir sendiri lagi tho!? Wajahmu tampak lelah, dan kamu juga lebih kurus ya nduk sekarang? Mbok jangan di forsis tho, kalau kerja... kan sekarang karyawan kita sudah banyak, jadi ndak semuanya kamu harus handle sendiri tho...!” ujar bunda tak hentinya, sembari menarik lembut tanganku untuk duduk di sofa ruang keluarga, dan mengelus kepalaku sekaligus membenahi rambutku yang tampak kurang rapi karena terpaan angin sepanjang perjalanan. Karena memang selama perjalanan kali ini aku sama sekali tak menghidupkan AC, agar dapat kurasakan udara (yang mungkin) terakhir kali aku dapat rasakan dalam perjalana pulang ke kampung halaman.
Tak berapa lama ayahpun keluar dari pintu belakang, setelah menuntaskan rutinitas barunya selama satu stengah tahun belakangan, berkutat dengan tumbuhan obat yang memang dibudidayakan oleh ayah dan bunda sebagai satu-satunya hobi yang dapat menyatukan mereka. Dengan sigap akupun menghampiri beliau seraya mencium tangan keriput itu serta memeluk erat tubuh buntalnya yang justru semakin kekar setelah beliau hijrah ke pedesaan.
“Disana semua lancar mbak? Ada masalah ga di Azkizya? Kamu jangan terlalu memforsir kerja tubuh, sadar kan kalau tubuh mbak Olive tuh lemah...” tutur ayah dengan lembut, namun dengan suara khasnya yang lantang. Sembari mengangguk, kupandangi satu-persatu wajah renta itu, wajah orang-orang yang paling berarti dalam hidupku didunia ini.
Bunda yang lembut, namun selalu bertahan dengan wataknya yang keras sangat khas. Ayah yang sabar, namun memendam bakat amarah yang luar biasa efeknya bila prinsip atau pendapatnya terusik oleh sesuatu yang bertolak belakang dengan kepribadiannya. Tak lama kemudian, kami habiskan suasan makan malam yang sunyi tanpa kehadiran dua permata hati kami, Shasya Senorita & Zutroyski Pranata. Namun kebahagiaan sangat terpancar dari wajah kedua orang tuaku. Walau batin ini tak hentinya berusaha keras untuk bernafas, karena sesak membayangkan reaksi ayah dan bunda bila mendapati keadaanku dengan kondisi memprihatinkan seperti sekarang.
“Ayah, Bunda,... mbak mau bicara sesuatu,...” ucapku perlahan dalam dekapan hangat kedua orang tuaku di depan televisi ruang keluarga. Ayah dan bundapun senyap, menanti kalimat berikutnya. “Mbak divonis mengidap kanker otak, dua tahun lalu. Sebelumnya maafkan mbak Olive, tidak menceritakan kepada ayah & bunda tentang hal ini. Mbak cuma,..” kalimatku tercekat karena tangan lebar ayah mendekap bibirku. Akupun tersentak dan hanya terdiam dengan air mata terurai dengan sedikit isak. Apalagi setelah mendengar jawaban ayah.
”Kami sudah mengetahuinya nduk, namun kami mempercayaimu hingga kau menyampaikan sendiri dari mulutmu tentang deritamu ini. Kamu tahu nduk,.. dokter penggantimu sekarang yang menanganimu di rumah sakit, itu adalah teman ayah. Dia adalah dokter ahli saraf terbaik yang ayah kenal. Kami menyayangimu nak, jangan putus asa. Pasti Tuhan memiliki ’sesuatu’ yang lebih baik unutkmu nduk...” jelas ayah tegas dengan sedikit parau. Dan bunda yang pula mendekapku, hanya dapat tersenyum hangat walau air mata tak henti membanjiri pipinya yang sedikit buntal dan mulai keriput.
”Olivia sayang ayah-bunda... maaf bila mbak Oliv belum dapat berbakti sepenuhnya kepada ayah-bunda. Mbak memohon doa restu untuk memulai perawatan di Rumah Sakit, karena dokter bilang metabolisme tubuhku dapat kapan saja menurun drastis dan akan berakibat fatal. Mbak juga tidak ingin mengakhiri usiaku di dalam toilet, hehehehe..” lanjutku parau dengan sedikit canda.
Dan kami akhiri malam itu dengan penuh suka cita, mengenang lucunya mas lalu, khusunya masa-masa kecilku yang sangat menggemaskan.