“Maaf, aku tidak dapat meneruskan hubungan kita ini ke jenjang pernikahan. Bukan kamu yang salah, segala perhatian dan tanggung jawabmu telah kau tunaikan dengan baik. Aku saja yang tak lagi terfikirkan untuk membina sebuah keluarga” jelasku terbata dengan mata berkaca-kaca menahan air mata yang berdesakan ingin keluar dari ‘kantungnya’. Malam dingin itu kuputuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kami, Rayadi Prasetya sosok pangeran dalam hatiku yang begitu kupuja segenap jiwa raga. Yang telah sekian tahun merangkai mimpi masa depan bersama.
Semua bermula saat seseorang yang aku rasa memiliki kesamaan latar belakang kelam hidupku, yang bermula dari rasa iba. Sehingga dengan berat hati untuk kulepaskan, ia seorang diri melalui masa sulitnya yang ia rasakan bagai neraka, dimana pernah kulalui seorang diri masa itu. Dan akupun merasakan efek yang sangat buruk hingga kini, dimana aku tak memiliki sandaran hidup tuk mendampingiku melewati masa-masa HITAM nan KELAM itu.
Panji Adhito Sutoyo , seorang anak tunggal dari keluarga berada, yang memiliki cerita hidup pula seorang diri dalam melalui masa-masa kritis dalam masa pertumbuhannya. Seorang yang beruntung, tapi sama sekali tidak pernah dapat menikmati keberuntungannya itu. Kenyamanan-kenyamanan dalam segi materi tak berdampingan dengan kasih sayang yang riil dari kedua orang tuanya. Hingga ia sinis bila membicarakan tentang arti kehidupan. Entah sejak usia berapa ia terpaksa belajar untuk hidup sendiri, benar-benar sendiri untuk belajar tentang arti hidup yang sebenarnya.
Semua itu kurasakan sebagai kesamaan latar belakang yang pernah aku alami dahulu. Bedanya, Panji masih belum keluar dari segala cobaan itu, dan aku mulai dapat merasakan hasil kerja keras dalam mencari arti hidup sebenarnya, semua pembelajaran tentang kedewasaan. Setidaknya aku masih memiliki puing-puing yang kokoh untuk dasar mempersatukan kristal-kristal cinta guna membangun kembali kerajaan dimana aku tumbuh kembang menjadi putri cantik dan periang, yang sempat tercerai-berai karena ketidakdewasaan para penghuni istana. Sedang ia masih belum dapat mengambil langkah besar itu, ia terlalu takut gagal dan terlanjur jengah dengan segala kemunafikan yang ada, sehingga ketidakperdulian yang ia jadikan senjata.
Adakala dimana orang dewasa menjadi kanak-kanak kembali, sehingga mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka selalu menganggap mereka telah melakukan perjuangan yang keras dan berat untuk memperbaiki segala sesuatu yang _mereka anggap_ salah. Tanpa mereka sadari, semua itu hanyalah tindakan perwujudan obsesi mereka sendiri. Manusia memang hanya seorang insan, dan bukan Tuhan. Hanya dapat menyerah, pasrah akan takdir, atau berjuang tanpa lelah untuk mewujudkan apa yang setidaknya mendekati benar, bukan tidakan SELALU BENAR layaknya Tuhan.
Begitupun dengan sosok seorang Hana Azizi Putri, aku hanya seseorang yang bosan melihat air mata dan dendam dalam kalbu setiap insan. Karena hingga kinipun aku merasa lelah akan hal itu yang masih mendominasi hati dan fikiranku. Sejak banyak pembelajaran-pembelajaran pahit yang kudapat, aku seakan selalu mengeyampingkan apa yang disebut dengan kebahagiaan, selama apa yang kumiliki masih dapat kubagi kepada insan lainnya. Aku bukanlah seorang malaikat, adakalanya aku membutuhkan sandaran hidup, teman sejati dalam hidup yang akan mewarnai dan menemani hidup ini hingga akhir hayat. Ada kalanya aku membutuhkan wadah untuk air mata ini, begitu pula membagi tawa yang tulus dengan orang terkasih.
Tak banyak orang dapat mengerti apa yang kurasakan dalam batin ini. Tak banyak orang dapat mendengar isak dalam tawaku, tak banyak orang dapat melihat perih dalam senyumku. Pula dengan penyesalan dalam tiap kata bijak yang kuberikan untuk semangati insan lainnya, saat mereka butuh sandaran pundak hangat ini. Menyesal ‘mengapa kala itu terjadi pada diriku, tak ada seorangpun membantu membuatku tegar dengan nasihat-nasihat seperti ini’. Begitupun dengan kisah cintaku, banyak kenangan pahit yang kudapatkan dalam kehidupan percintanku dengan kaum adam.
Berawal dari hilang keperawanan sejak usia dini, hingga aku begitu merasa nista akan tubuhku sendiri. Kala aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku dengan mulai mengungkap kisah pahit masa lalu kepada _yang menurutku_ orang-orang yang salah. Sehingga bukan iba yang kudapatkan, melainkan cibiran yang tak nampak dari bibir manis bajingan-bajingan itu. Seolah malaikat, mereka sapa hariku dengan rasa iba yang palsu dan berakhir dengan PELECEHAN pada akhirnya. Semua itu sungguh terasa berat bagiku, yang kala itu harus berjuang seorang diri untuk bertahan dalam memerangi segala perih dalam batin ini, segala usaha tuk menjadikan itu sebuah hikmah bukan musibah.
Seorang Hana hanya tak ingin orang lain merasakan apa yang pernah dirasakannya kala itu. Bila mereka telah terlanjur mengalaminya, ia hanya tak ingin lagi melihat air mata dan dendam dalam batin mereka. Karena ia pun lelah memendam segala rasa itu di batinnya. Ia hanya ingin berbuat sebaik-baiknya untuk semua insan di muka bumi tuk merasakan cinta yang tulus, bukan lagi hanya kemunafikan yang terpaksa harus mereka lakukan dalam pengungkapan rasa cinta, yang menurut mereka akan pudar suatu saat. Arti cinta baginya adalah sesuatu yang tak akan lekang oleh waktu. Itu arti hakiki sebuah cinta. Seperti CINTA sang Khalik kepada hamba-Nya. Selalu saja curahan cinta dan ampunan yang DIA berikan kepada insan di bumi, tanpa terkecuali dan tanpa batas.
Sama seperti saat Rayadi mengungkapkan cintanya kepadaku, aku meyayanginya walau tetap tak mengerti hakikat cinta yang sesungguhnya. Begitu pula saat Panji mempertanyakan cintaku kepada dirinya, aku hanya dapat termangu, tanpa jawaban yang selalu dinantikan olehnya. Hanya jawaban klise yang dapat kuberi dan mempertanyakan kembali ‘Apa Artinya Cinta’.
Dan berucap “Aku sayang kamu Panji, namun aku tidak atau mungkin memang takkan pernah mengerti apa arti CINTA sesungguhnya. Aku sayang dan perduli dengan Panji. Cukup ini jawaban yang Hana dapat berikan”
***
Semua berawal pada suatu malam, setelah sekian lama tidak aktif online di chat room, tempat dimana aku bertemu dengan keluarga baruku di sebuah komunitas sosial yang berkonsentrasi di bidang Pendidikan. Dengan niat menyapa sahabat-sahabat disana, pula mencari anggota keluarga baru yang juga mungkin se visi-misi dengan komunitas kami maupun denganku.
Disanalah aku berkenalan dengannya, Panji Adhito Sutoyo, seseorang yang mengaku berdomisili di Aceh dan sedang melanjutkan studinya di konsentrasi ilmu Psikologi di salah satu Universitas negeri ternama di sana. Pada awalnya kami hanya berbincang ringan, sekedar ingin tahu latar belakang masing-masing. Hingga ia mulai berkomentar dingin tentang pembicaraan yang sedang kami bahas saat itu. Entah bagaimana aku benar-benar dapat merasakan kepedihan hatinya kala itu. Seakan aku telah lama mengenalnya, padahal bisa saja semua yang ia ungkapkan adalah kebohongan, namun entah mengapa pula seorang Hana Azizi Putri seolah begitu saja terhipnotis dengan semua cerita Panji. Hingga akupun dapat sebegitu yakin akan kejujuran _yang belum tentu benar_ yang ia ungkapkan malam itu.
Hingga dari sekian panjang pembicaraan kami malam itu, aku sungguh terhenyak dengan pengakuannya, bukan lagi pertanyaan tapi langsung pernyataan “Kamu mau ya jadi istri aku, aku tidak butuh sekedar teman. Tapi aku butuh pendamping hidup! Dan aku ingin kamu yang mendampingiku disisa hidupku”.
Dengan lugas kujawab, “Maaf. Aku sudah memiliki calon pendampingku sendiri. Dan kami benar-benar telah merencanakan masa depan yang akan kami bangun nanti. Pasti ada seorang bidadari untuk kamu yang memiliki segala-galanya yang lebih dari aku miliki, dan dia sedang menunggu kamu temukan…”
“Aku tidak membutuhkan yang lain, aku hanya ingin kamu!! Aku berjanji akan memberikan segalanya. Kamu mau apa, atau membutuhkan sesuatu. Kamu butuh berapa, aku transfer sekarang juga!” jawabnya.
Kontan aku sungguh terhenyak, bukan emosi yang kurasakan kala itu, namun kesedihan mendalam. Sungguh aku sedih mendapati insan yang begitu kurasakan beruntung dengan segala kenyamanan yang ia miliki, namun memendam dalam seluruh kebencian di muka bumi. Sehingga seorang Panji yang baru kukenal, begitupun sebaliknya dapat berkata sebegitu sadisnya untuk mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan. Sungguh kurasakan salah, bila seorang insan dapat memandang insan lainnya hanya ia ukur dari materi.
Akupun kembali bercermin pada gaya hidupku dahulu. Hanya tau tentang segala cara agar dapat membalaskan dendam kepada kedua orang tuaku, yang kurasa tidaklah menjalankan perannya dengan baik. Orang tua yang telah menelantarkanku, hingga keperwananku terenggut oleh pamanku sendiri. Saat perselisihan kedua orang tuaku pecah dan benar-benar menjadi momok yang mengerikan, akupun kontan lebih geram untuk membuat mereka menyesal akan segala yang mereka perbuat terhadapku, kedua adikku, pula dengan keluarga ini. Hingga aku menjadi pribadi yang begitu keras, dan sama sekali tidak memperdulikan apa manfaat atau efek buruk akan seluruh tingkah laku yang jauh dari mulia. Seorang Hana yang dulu hanya memikirkan bagaimana caranya ia dapat membuat dirinya sendiri NYAMAN atas segala ketidaknyamanan itu.
Diluar itu semua, kini aku bimbang mengapa bisa secepat ini aku dapat terpikat oleh seseorang yang bahkan belum pernah kutemui. Seolah segala waktu dan perhatian tercurah untuknya, semua menjadi TENTANG PANJI. Hingga aku sampai hati mengambil keputusan yang sungguh diluar kontrol akal sehat. Semua agenda masa depan yang telah direncanakan, tanpa ataupun dengan Rayadi tak lagi menjadi tolak ukur. Segala perjuangan yang kami tempuh dari NOL seolah tak pernah ada, tak lagi menjadi point perhitungan. Siapakah Panji, sehingga dapat sebegitu dalam menyihirku untuk tak lagi menjadikan LOGIKA sebagai landasan pengambilan keputusan dalam hidup. Sebegitu dahsyatkah efek dari sesuatu yang biasa disebut CINTA? Yang mungkin dapat dikategorikan CINTA BUTA.
***
Sejak seorang Hana mengenal dunia yang membuatnya tumbuh dewasa lebih cepat, disanalah ia melukis kisahnya yang kebanyakan seakan tidak nyata. Sejak ia mengenal dunia maya, ia pun terbius akan itu, tiada kesulitan yang nampak disana. Hanya bincang ringan, saling mengenal satu sama lain, berbagi cerita dengan orang lain di belahan bumi lain. Di dunia nyatapun Hana tak pernah dapat merasakan hidup yang riil, jadi tak ada beda baginya untuk menjalin persaudaraan, persahabatan, bahkan jalinan cinta dengan orang yang tidak riil hadir dalam kehidupannya sehari-hari.
Suatu saat, dimana aku sedang tumbuh dalam kepompong, mempersiapkan diri menjadi KUPU-KUPU yang anggun dan cantik, pula dalam fase mempersiapkan batin untuk memasuki dunia kedewasaan yang sempat menjadi momok yang sangat mengerikan. Aku berkenalan dengan seseorang di dunia maya, seorang mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi di Bogor, dengan konsentrasi ilmu Pertanian. Dialah Rayadi Prasetya, seorang anak lak-laki tunggal dari 3 bersaudara, dengan latar belakang keluarga baik-baik. Perantau yang TANGGUH, menimba ilmu jauh dari orang tua. Sejak semester awal, dia tak pernah pulang ke kampung halaman pula bertatap muka dengan kedua orang tua, dan adik tercinta. Rayadi, lulusan sebuah sekolah kejuruan dari tanah Sulawesi, yang melanjutkan mengejar cita hingga ke tanah Pasundan. Sejak lulus SMP hidup terpisah dari orang tua, karena harus masuk sekolah berbasis asrama, kinipun ia menyelesaikan pendidikannya ke jenjang sarjana, dengan merantau pula berjauhan dari keluarga tercinta.
Pada awalnya kami hanya berteman biasa, hingga suatu ketika aku memiliki waktu luang untuk berkunjung ke Bogor. Jakarta-Bogor kutempuh dengan bus antar kota, seorang diri. Bahkan ke daerah yang belum pernah kupijak sebelumnya. Dan akhirnya membuat janji pertemuan di salah satu terminal besar di Bogor. Aku, Agus, dan Rayadi. Sebelumnya aku telah memiliki teman di Bogor, selain Rayadi. Aku lebih dulu mengenal Agus daripada Rayadi. Hari yang cerah itu kami lewati bertiga, makan ice cream di swalayan, dan sore harinya kehujanan saat menuju ke kampus Rayadi. Kesamaan profesi antara Agus dan Rayadi membawa kami ke lab komputer kampus Rayadi. Dimana ia bekerja part time sebagai operator disana. Kamipun sempat berkunjung ke asrama Rayadi yang kala itu lebih dekat jaraknya daripada ke lab.
Tak terduga, benih-benih cinta tumbuh dihati Rayadi kala itu. Sedang aku masih terus menikmati dendam dan sakit yang ditimbulkan oleh luka-luka masa silam. Sehingga sinyal-sinyal cinta Rayadi tak nampak olehku. Hingga suatu ketika Rayadi menyatakan perasaannya kepadaku, dan kala itu aku mengatasinya dengan baik, menolak dengan halus. Namun ternyata cinta Rayadi kepadaku telah berakar hingga keseluruh pojok-pojok kecil hatinya, yang membuat Rayadi terus, terus dan terus berusaha dengan gigih menggugah hati ini agar dapat menerima cintanya dalan jalinan asmara yang kekal. Namun aku masih sibuk menata hati akan luka-luka masa silam yang ditorehkan oleh para kaum ADAM, tak terkecuali ayahanda tercinta.
Kala itu sama sekali tak terbesit olehku untuk menjawab cinta Rayadi. Hingga sepanjang perjuangan Rayadi memenangkan hatiku, kami sering terlibat pertengkaran mulut. Hingga suatu ketika aku tersadar bahwasanya Rayadi adalah orang yang baik dan tak pantas mendapat perlakuan buruk maupun caci-maki itu. Hingga aku tersadar, dalam pencapaian target balas dendam kepada kaum Adam ini, dengan melambungkan perasaan mereka dan seketika itu pula kuhempaskan mereka dari ketinggian angan mereka seakan mereka telah mendapatkan apa yang mereka impikan. Bukanlah seorang Rayadi yang layak mendapatkan semua obsesi pembalasan dendam tersebut. His a good person, pengorbanannya selama ini telah membuktikan keseriusannya terhadapku. Namun memang kala itu aku belum juga terfikirkan, hubungan yang kekal tuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bahkan untuk sekedar mencobanya.
Setelah aku disibukkan dengan segala misi balas dendam, akupun merasakan kehampaan akan semua hasil yang _kurasa_ telah kudapatkan dengan jerih payah dan pengorbanan yang tidak kecil untuk semua itu. Mencapai tujuan yang jauh dari mulia. Aku sempat menyesali segala tindakanku itu selama beberapa waktu. Memang aku terbilang SUKSES dalam misi ini, banyak pria yang masuk perangkap dan berhasil kupatahkan hati mereka berpuing-puing. Sebenarnya dalam pencapaian semua itu, akupun sempat menemui beberapa sosok yang _mungkin_ baik bagi masa depan, namun dendam itu terlalu dalam untuk sesuatu yang biasa orang elu-elukan, yang disebut CINTA. Cinta yang selama ini kurasakan PALSU yang lahir dari kaum Adam, yang selalu merasa merekalah pusat kepemimpinan dan daya tarik. Sehingga dapat begitu angkuh dan dengan leluasa mempermainkan perasaan wanita. Tak berselang lama, Rayadi yang sempat beberapa waktu menghilang dari peredaran, kembali mengetuk pintu kehidupanku. Yah,… dengan apa lagi selain cinta tulus yang ia miliki, dan tetap teguh menginginkanku sebagai wanita beruntung itu. Sebenarnya aku kurang menginginkan kehadirannya kala itu. Namun seorang Hana Azizi Putri yang telah letih memendam dendam dan air mata dalam hati seorang diri pada akhirnya luluh juga dengan hanya SATU PERNYATAAN “kamu kira, aku tidak sungguh-sungguh saat mengutarakan keseriusan niatku, tuk menjadikan kamu yang SATU dalam hidupku, dalam suka maupun duka??!!!”
Dengan satu pernyataan itu, aku sempat terdiam dan sungguh terhenyak, kaget sekaligus haru. Aku tersadar akan obsesi-obsesi negatif terdahulu yang merupakan sekedar pelarian dari penyesalan akan TAKDIR yang seakan tak adil padaku. Kontan hanya dapat kujawab “maaf, aku amat sangat butuh waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut”.
***
Panji, mengapa ia selalu bertandang dalam mimpiku, di tiap malamku beberapa waktu ini. Apa salahku Tuhan, hingga apa yang biasa disebut CINTA mempermainkanku hingga sebegininya? Apakah ini karma? Apakah ini anugerah ataukah sebuah musibah? Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Seseorang yang begitu semu, bahkan untuk dipercaya apakah ia benar ada dalam hidupku, dalam anganku, dalam hatiku? Seorang Panji Adhito Sutoyo. Apakah aku harus seperti tokoh Isabella dalam TWILIGHT. Mencari tahu SIAPA sebenarnya seorang Edward Cullen, mencari tahu SIAPA sebenarnya sosok Panji Adhito Sutoyo. Haruskah aku benar-benar menyelidikinya hingga Aceh? Lalu bagaimana dengan tokoh Ina Dinasya? Tunangan Panji. Dalam tokoh Bella maupun Edward masing-masing dari mereka masih SINGLE. Namun kami, Hana & Panji, masing-masing dari kami telah terikat dengan pertunangan. Apakah kami harus melangkahi takdir seperti Bella & Edward yang berasal dari dunia yang SAMA SEKALI BERBEDA.
How about Ina, How about Rayadi? Bila Bella hanya memepertaruhkan nyawanya akan kendala yang kelak ia hadapi dari klan Edward, namun aku, Hana… mepertaruhkan banyak kelangsungan hidup orang lain, Rayadi, Ina, keluargaku, keluarga besar Rayadi. I believe in my SELF, for everythink in the past on my FUTURE. Aku PERCAYA aku dapat mengatasi masalah-masalah yang ada dalam hidupku, dalam rumah tanggaku kelak. Walau bersama seseorang yang menganggap dirinya sendiri BERMASALAH. Namun kala aku harus dihadapkan dengan kenyataan, bahwa benar adanya seorang Panji dan kisah hidupnya merupakan KEBOHONGAN besar. Yang lahir dari masalah akademik yang sedang dihadapinya. Akupun seakan kembali dipermainkan oleh takdir, untuk terus belajar IKHLAS atau kembali sakit hati hingga menDENDAM segala yang berkaitan dengan, cinta, kejujuran dan kesuksesan.
***
Beberapa bulan kemudian, Agustus 2009.
,..pip pip pip.., Kala sebuah pesan terkirim ke ponselku, Gatot.
‘Han, Panji minta alamat Facebook kamu tuh! Kasih ndak?’
sungguh sepenggal pesan yang membutaku tercengang.
Aku sedang tidak bermimpi kan? Panji? Masih berani menampakkan diri? Mempertanyakan tentang diriku, Facebook? Rindukah ia melihat wajah bodohku? Yang dengan mudahnya dapat ‘jatuh cinta’ dengan kehidupan palsunya!? Okay, i’ll prove it to HIM, im still ALIVE!
Dengan sigap seketika itu pula, kuketik rangkaian alamat email untuk account Facebook’ku. Dengan sepenggal pesan,
‘...kita lihat, apa reaksinya. Nanti ceritain ya ke aku, bagaimana mimik wajahnya pada saat lihat account ato foto maupun isi dalam eFBe’ku, okay?..’
Tak beberapa hari setelah pemberitaan dari Gatot bahwa Panji mencari tahu info tentangku. ,..pip pip pip.., lagi Gatot mengirimkan sebuah pesan yang tak kalah mengejutkan dari sebelumnya.
‘Panji minta No. hape kamu Han.. gimana, kasih ndak?’
Namun kali ini reaksiku berbeda,
’Ada apa sih bro, kok sekonyong-konyong dia nyari aku gitu? Emang ada masalah sama Ina, jadi dia nyari aku untuk pelarian gitu? Aneh deh, mau apa lagi sih nih anak!?’
’Mana aku tau,...boleh ndak nih dikasih?’
’Yawdahlah kasih aja, pengen tau juga aku, masih berani dia hubungin aku? Masih punya muka dia buka suara dihadapan aku.’
Detik itu pula, sakit itu kembali sergapi seluruh hati dan ragaku. Rindu terdalam, namun bersanding dengan amarah tak terbendung. Dan tak memerlukan selang waktu yang terlalu jauh, beberapa hari kemuadian...
,..rrrtt rrrtt rrrtt.., terasa getar ponsel dibawah bantalku. Dengan masalah insomnia yang semakin memburuk, saat waktu tidur selalu ’silent mode’ yang kuaktifkan pada ponselku. Tanda adanya panggilan masuk telah dapat kuterka, dan sungguh terkejutnya diri ini, muncul satu rangkaian digit no. seseorang yang tak lagi bernama dalam phonebook namun masih sangat kuhafal. Panji. Dalam keadaan yang baru saja terlelap beberapa saat, aku sungguh tersadar sepenuhnya. Bahwa hati ini mulai bergejolak, tak terlalu terkejut juga sebenarnya, karena aku telah mempersiapkan diri akan telfon darinya. Namun tidak sekarang, disaat matahari mulai tersenyum untuk bumi. Saat detik awal aku dapat memejamkan mata. Sungguh terlalu dini, tak seperti perkiraanku sebelumnya..
”..assalamualaikum,..” dengan suara yang sengaja kubuat berat, ingin ia tahu bahwa aku benar-benar tak menyadari bahwa seorang Panji Adhito Sutoyo yang menelfonku.
”..walaikumsalam,..” jawab suara diseberang sambungan telfon itu.
”..maaf siapa ya?..” balasku, pura-pura tak tahu.
“Panji. Lupa?” ……… hening.
“Oh iya, ada apa ya?” …… dingin.
“Enggak, Cuma mau tanya kabar aja.. sehat?” gugup, ia menata kata.
“Alhamdulillah sehat, tumben telfon? Masih inget aku?” …… gugup ditutupi.
”Enggak boleh ya, yawda deh maaf ganggu,..” ...... rasa bersalah, pasrah.
“Hahaha enggak gitu juga sih, enggak ngeganggu kok. Udah biasa diganggu kamu kok. Gimana juga kabar kamu, kabar Ina?” runtutku, dengan berusaha menutupi perihku karena merindunya.
”Bisa enggak bahas tentang dia?” jawabnya singkat.
”Lho, emangnya kenapa? Kita kan udah enggak ada hubungan apa-apa lagi, aku juga jadi ga repot merasa bersalah lagi sama Ina. Dengan datangnya telfon kamu pagi ini,... jadi,.” belum sempat kalimat aku lanjutkan,..
”Maaf kalo udah ganggu waktu istirahat kamu. Wassalamualaikum.” hening.
,..tuuuuuuut.., serasa irama alat pedeteksi tekanan jantung, yang biasa dipergunakan di ICU. Irama yang menandai akhir usia seseorang yang sekarat. Ilustrasi inilah yang terlintas dalam fikirku, saat ia tutup telfon tanda berakhirnya pembicaraan kami, _mungkin_ LAGI tuk kali terakhir. Serasa irama jantungku tak lagi berdetak, tanda lepas usia. Serasa mati. Perih, membeku. Kebal. Begitu dalam luka yang tak terbendung sakitnya, hingga membiru dan mati rasa. Indah suara itu, yang DAHULU tiap malam temani tidurku. Ditiap harinya memberi warna baru dalam hariku. Kurindu. Tiap detik. Menit. Jam. Tiap detak jantung. Nafas. Langkah. Dan tetes airmataku...
Tak berapa lama ,..pip pip pip..,
’Maaf kalo aku udah ngeganggu waktu istirahat kamu, aku cuma mau minta maaf dan sekedar tanya kabar,... Maaf atas semua luka yang ada’ pesan singkat, yang sungguh singkat. Isakku sunyi.
Tuhan, dosakah hamba? Masih mencintainya sedalam ini. Tuhan, luka ini. Tak dapat kupungkiri ’indah’ kami dalam setiap luka yang ada, masih sangat mengikatku. Aku mencintainnya, berikut luka yang ada. Namun jalan kami telah jauh terbelah oleh jarak dan perbedaan.
***
”Duh, maaf banget. TOL padet banget nih. Sabar ya ay,.. bentar lagi aku sampe kok. Beneran deh, ini dah di pintu masuk bandara. Baru keluar pintu TOL” paparku panik.
Kamis, 17 Desember 2009
Hari ini Panji tiba di Jakarta, petang yang sungguh padat. Akses keluar-masuk Jakarta penuh riuh redam, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Terminal 2b, kedatangan. Membelah massa, dan tak lepas ponsel menempel ditelingaku. ‘dimana kamu,..?’ hanya itu yang terus melekat dibenakku dan jantung yang terus berdegub dengan kencangnya.
“Itu lho, aku di depan halte bis. Di depan pintu keluarnya PASS. Pokoknya kamu cari aja, halte bisnya. Di pintu keluar kedatangan ya, ay…” jelas Panji dengan terus membiarkan sambungan telfon.
“Ia ay, aku udah liat tulisannya, dan aku juga,…” kalimatku tersengal saat kutemui sosoknya TEPAT disisi kiri tubuhku. Sosok tinggi besar, dengan potongan rambut 2cm, putih dan… mata cokelat itu ‘subhanallah, inikah Panji? Sosok yang entah mengapa sangat melekat keberadaanya dalam hati dan jiwa ini? Bahkan saat hamba belum mengenal sosok nyatanya?’. Jabat tangan pertama kami, berlanjut saling melempar senyum termanis yang dimiliki.
Cukup lama keheningan sergapi kami, dengan langkah terus terayun dengan sendirinya, kearah halte bis Damri di seberang ubin, tempat dimana ‘pijakan’ pertama kami dalam pertemuan ini. Dan kalimat kedua, serta berikutnya mengalir dengan indahnya, tanpa ada kendala berarti walau tetap terselip grogi.
“Kita naik yang ke Kp.Rambutan?” Panji membuka pembicaraan.
“Uhm, kita naik yang ke Gambir aja deh, lebih dekat ke penginapan. Kalo ke Kp. Rambutan mah pulang kerumah aku, hehehehe” balasku dengan santai.
Hening lagi. Menanti bis tujuan St. Gambir, banyak momment mencuri pandang kearahnya, sungguh tak terperi riangnya hati ini. Akhirnya, setelah ribuan luka yang kutelan sendiri, lebih dari perih yang ia tau, yang pernah ia torehkan dalam hati dan hidup ini. Namun aku bertahan, untuk indah itu, kini. Sungguh tak pernah kusangka, hadirnya kini, dihadapku, di Jakartaku. Sungguh, rahasia-Nya takkan pernah ada yang mengira. Luka itu, rasa percaya yang terhapus dalam sekali petikan jari-Nya. Mungkinkah hubungan ini akan berhasil? Setimpalkah semua perjuanganku untuknya? Mendustai kata hati sendiri, selalu membohongi diri sendiri akan bahagiaku bersamanya. Mimpi, semua serasa seperti mimpi. Sungguh tak pernah terlintas sedikitpun, Panji akan kembali kepelukanku. Kembali mendapatkan kepercayaanku. Mimpi, mimpikah aku?
Ternyata bis kamipun dipadati penumpang, dan akhirnya kami mendapatkan kursi pada barisan yang berbeda, Panji di 3 barisan bangku dari belakang, dan aku di 4 barisan bangku dari belakang. Namun karena posisi kami terdapat di barisan terluar, jadi kami masih dapat berbincang karena masih dapat mensejajari satu sama lain. Dalam bentuk ‘seat 2-2’ otomatis kami mendapati teman sebangku yang berbeda, Panji dengan penumpang lain yang kebetulan pria, juga aku dengan penumpang lain yang kebetulan wanita. Dalam perjalanan pun, ‘teman’ sebangkuku ternyata orang yang supel dan enak diajak bicara. Hmmm, tanpa mengurangi rasa hormat, jadilah porsi kami (Panji dan aku) ngobrol sempat terbagi. Namun sungguh indah, kala itu karena tidak ingin mengganggu penumpang lain, kami ngobrol dengan menggunakan media ponsel. Karena kebetulan ponsel Panji habis baterai, jadilah kami gunakan layar ‘pesan baru’ pada ponselku menjadi ‘private room’ bagi kami membagi tawa, dan bertukar fikiran tentang rencana apa saja yang telah ku’jadwal’kan untuk liburannya di Jakarta selama 2 minggu.
‘bentar lagi kita sampai ay, siapin tas kamu’ pesan terakhirku saat perjalanan kami dengan rute bis tersebut berakhir.
Rona ungu pada angkasa, telah berubah menjadi pekat. Dinginnya suhu AC di dalam bis, selama perjalanan sempat membuatku gelisah. Namun balutan hangat polusi khas kota besar telah menyapaku sejak langkah pertama saat keluar pintu bis. Sungguh aneh, canggung, tapi tak lama kemudian dengan mudahnya kami membaur kekehidupan metropolitan yang biasa kulewati bertahun-tahun. Entah apa yang ada dalam fikirnya, sembari banyak mengumbar senyum dan sedikit melonjak, cepat ia tendang pantatku dengan jahil dengan kaki kanannya seperti pesepak bola sedang jugling.
”Ih, apaan sih! Iya deh mentang-mentang tinggi, kakinya panjang jadi bisa seenaknya jail!?” protesku manja.
”Ngambek nih ceritanya? Abis kamu ngegemesin sih, hehehehe. Akhirnya kita bisa ketemu juga, senangnya...” balasnya merayu, sembari melingkarkan lengan besar kirinya ke leherku. Mendekapku.
”trus, kita mau kemana ay? Naik Trans Jakarta, jadi? Darimana nih naiknya?” lanjut Panji.
”Hemmm, karena kamunya manja, ga mau jauh dari aku, hehehe...” candaku sambil melirik genit ke arahnya.
”... kamu bermalam dipenginapan dekat rumah aku aja deh, jadi sekarang kita ke Blok-M dulu. Katanya juga kan ayang mau cari celana pendek dulu untuk tidur. Lagi ada juga orang traveling ga bawa apa-apa. Jadi harus beli baru di tempat tujuan, =P hehehehe” jelasku panjang lebar, sembari menjajari langkah menuju shelter bus Gambir II, Trans Jakarta Busway.
Hari terakhir kerja, untuk long weekend kali ini, benar-benar kurasa kepadatan aktivitas khas ibukota. Saat bus kami tiba, tampak penuh dengan penumpang yang notabene para karyawan yang hendak pulang kerja, dari hari terakhir aktifitas kantor mereka. Dengan wajah pucat, Panji mengikuti langkahku memasuki bus. Inilah kehidupan ala Ibukota ay, semoga kamu bisa menyesuaikan diri. Sungguh hari yang melelahkan baginya. Berada separuh hari dalam perjalanan udara, dan setibanya di Jakarta disuguhkan kemacetan dan keriuhan ala Ibukota. Sungguh tak kusangka, dalam diamnya Panji sungguh tidak nyaman dengan kehidupan ala kota Metropolitan. Setelah kami sampai di Blok-M dengan armada terakhir Trans jakarta busway. Sungguh diluar perkiraanku, kami tiba disana sekitar jam 21.30.Dan perhitunganku meleset, setibanya disana, pertokoan telah sepi bahkan swalayan yang (setahuku) biasa tutup jam 22.00, juga tutup. Sungguh seram keadaan terminal yang sepi, yang kontan membuat Panji lebih panik.
”Kita naik apa dari sini?” tanya Panji panik.
”Naik 57 aja, langsung ke Cililitan, trus dari sana, tinggal naik apa aja yang ke Pd.Gede baru deh ke Jatiwaringin, kepenginapan kamu.” jawabku santai.
”..bis seperti itu???..” tunjuk Panji panik, kearah bis ¾ berwarna orange.
”iya, kenapa? Ga apa, insya allah aman kok. Aku biasa naik itu, lebih cepat dan murah..” jawabku, menenangkan sambil tersenyum tipis.